Jakarta – Sejak Juli 2023 lalu, sebagian besar wilayah dalam dalam Indonesia dilanda fenomena iklim yang dimaksud disebut El Nino. Akibatnya, cuaca panas kemudian terik serta kekeringan pun menjadi keluhan sebagian besar warga Indonesia.
Salah satu contoh ekstrem cuaca panas di area tempat Indonesia adalah catatan suhu pada Kertajati, Majalengka, Jawa Barat. Pada Rabu (18/10/2023) hingga Kamis (19/10/2023), Kertajati sempat mencatatkan suhu tertinggi hampir 40 derajat Celsius, yakni 39,1.
“BMKG mengimbau warga untuk menjaga kondisi stamina tubuh kemudian kecukupan cairan tubuh, terutama bagi warga yang dimaksud mana beraktivitas di tempat tempat luar ruangan pada siang hari supaya tidaklah ada terjadi dehidrasi, kelelahan, juga juga dampak buruk lainnya,” imbau BMKG melalui akun Instagram resmi (@infobmkg), dikutip Jumat (20/10/2023).
Berkaitan dengan imbauan BMKG, dokter sekaligus epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, mengungkapkan bahwa cuaca panas juga paparan sinar matahari yang mana mana ekstrem memang dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan manusia.
Prof. Dicky mengatakan, hal yang dimaksud sanggup terjadi sebab beberapa organ tubuh manusia mempunyai tingkat sensitivitas yang mana dimaksud tinggi terhadap panas.
“Beberapa bagian atau organ tubuh manusia sangat rawan atau sensitif terhadap panas oleh sebab itu merekan itu berperan dalam mengatur suhu tubuh. Jika terpapar panas berlebihan, ini akan menyebabkan gangguan pengaturan suhu tubuh,” ujar Prof. Dicky kepada CNBC Indonesia, dikutip Jumat (20/10/2023).
Umumnya, penyakit yang mana hal tersebut diketahui bisa jadi cuma menyerang manusia akibat cuaca panas adalah heat stroke atau kondisi terberat pada tubuh akibat cuaca panas.
Menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI), heat stroke terjadi saat tubuh tidaklah ada dapat mengontrol suhu badan. Kondisi ini ditandai dengan suhu tubuh yang dimaksud digunakan meningkat hingga 40 derajat Celsius dalam kurun waktu 10 hingga 15 menit.
Namun, ternyata ada deretan penyakit lainnya yang tersebut digunakan dapat mengintai manusia selama cuaca panas. Apa saja? Berikut rangkumannya.
1. Penyakit Kulit
Kulit adalah organ tubuh terbesar manusia yang digunakan hal tersebut berfungsi sebagai pelindung dari kerusakan akibat benturan, kontak kimia, serangan bakteri, jamur, kuman penyakit, kemudian sinar matahari.
“Ketika kulit terekspos suhu yang dimaksud tinggi maka kulit akan mengalami kemerahan, sunburn (terbakar sinar matahari), atau kondisi yang hal itu lebih lanjut tinggi parah, yakni heat stroke,” papar Prof. Dicky.
Selain kulit dehidrasi atau terbakar, dalam kondisi terburuk paparan sinar matahari dapat menimbulkan risiko kanker kulit, terutama jika tak diberi perlindungan ekstra selama cuaca panas ekstrem.
Dengan demikian, Prof. Dicky mengimbau setiap orang untuk menggunakan pakaian panjang lalu longgar, menggunakan payung juga topi ketika beraktivitas pada luar ruangan, hingga menggunakan tabir surya (sunscreen).
“Kalau berbicara kulit, ya, mulai dari kepala sampai ke ujung kaki. Itu, kan, dilapisi kulit. Selain itu, pastikan cukup minum air [agar tidaklah mengalami dehidrasi],” kata Prof. Dicky.
2. Penyakit Kardiovaskular
Sistem kardiovaskular yang mana terdiri atas jantung juga pembuluh darah berfungsi untuk mengalirkan darah ke seluruh tubuh. Ternyata, sistem ini juga rawan mengalami gangguan atau penyakit jika tubuh terlalu sering terpapar sinar matahari.
“Ketika suhu panas terjadi maka darah lalu juga pembuluh darah kita mengalami vasodilatasi atau jadi mengembang atau melebar,” jelas Prof. Dicky.
“[Jika hal itu terjadi] maka jantung bekerjanya jadi lebih lanjut lanjut keras lagi. Bebannya semakin besar untuk mensirkulasikan darah serta ini dapat menyebabkan peningkatan denyut jantung serta tekanan darah,” lanjutnya.
Dengan demikian, Prof. Dicky mengajukan permohonan para penderita penyakit kardiovaskular juga kelompok lanjut usia (lansia) untuk meningkatkan kewaspadaan kemudian perlindungan selama cuaca panas. Sebab, kedua kelompok yang mana paling berisiko mengalami gangguan sistem kardiovaskular akibat panas.
3. Gangguan Ginjal
Selain penyakit kardiovaskular, gangguan atau penyakit ginjal juga berpotensi dialami manusia selama cuaca panas. Menurut Prof. Dicky, kondisi dehidrasi yang mana dialami manusia secara tidaklah langsung mampu mempengaruhi kesehatan ginjal.
“Ginjal berfungsi untuk meregulasi lalu mengatur keseimbangan cairan serta elektrolit di area area dalam tubuh. Panas ekstrem yang digunakan digunakan sanggup menyebabkan dehidrasi sanggup meningkatkan risiko gangguan ginjal,” papar Prof. Dicky.
“Salah satunya adalah batu ginjal,” tegasnya.
Maka dari itu, Prof. Dicky mengimbau rakyat untuk selalu memverifikasi tubuh terhidrasi dengan mengonsumsi air mineral meskipun sedang bukan ada dalam keadaan haus.
4. Gangguan Sistem Pernapasan
Beberapa waktu belakangan ini, kasus gangguan sistem pernapasan semakin meningkat, salah satunya akibat polusi udara. Namun, Prof. Dicky mengatakan bahwa gangguan kesehatan hal hal tersebut juga dipicu oleh musim kemarau serta udara lembap.
“Pada suhu panas, udaranya juga lembap, ini merangsang timbulnya keluhan-keluhan saluran napas,” kata Prof. Dicky.
Lebih lanjut, Prof. Dicky mengungkapkan bahwa anak-anak adalah kelompok yang tersebut yang paling rentan mengalami gangguan sistem pernapasan akibat cuaca panas.
“Suhu cuaca panas itu membantu timbulnya perburukan infeksi atau penyakit saluran napas pada anak, apalagi ditambah dengan buruknya kualitas udara yang digunakan seringkali dikaitkan dengan gelombang panas,” bebernya.
5. Gangguan Sistem Saraf Pusat
Organ terakhir yang digunakan dimaksud berisiko mengalami gangguan akibat cuaca panas ekstrem adalah sistem saraf pusat. Sistem saraf pusat adalah organ yang dimaksud meliputi otak kemudian sumsum tulang belakang.
Jika terlalu sering terpapar sinar matahari kemudian cuaca panas ekstrem, sistem saraf pusat dapat mengalami gangguan yang mana ditandai sebagian gejala, seperti kebingungan, pusing, hingga hilang kesadaran.
“Dampak yang itu dapat muncul akibat panas antara lain dalam bentuk heat stroke, misalnya muncul gejala kebingungan, puyeng, pusing berputar, serta yang mana yang lebih tinggi lanjut berat kehilangan kesadaran,” ujar Prof. Dicky.
Dengan demikian, Prof. Dicky mengimbau umum untuk mengurangi aktivitas dalam area luar ruangan, terutama saat waktu puncak panas, yakni antara pukul 10.00 hingga 16.00.
Artikel Selanjutnya 5 Penyakit yang digunakan hal tersebut Dipicu Polusi Udara, Gak Cuma Batuk-Pilek