Cuap-cuap Manis saat Krisis Iklim Makin Menggila

Cuap-cuap Manis saat Krisis Iklim Makin Menggila

 ternyata bukan cuma isapan jempol. Sejumlah negara pada dunia, termasuk  sudah merasakan dampak langsung dari krisis iklim. Masalahnya, sudah cukupkah yang digunakan dijalankan pemerintah buat menangkalnya?

Dampak krisis iklim yang dimaksud digunakan sangat terasa bagi kehidupan sehari-hari di dalam dalam antaranya, cuaca ekstrem, krisis air bersih, suhu kian memanas, hingga kemarau berkepanjangan yang mana digunakan memicu kebakaran hutan juga lahan dalam dalam beberapa total wilayah Tanah Air.

Badan Meteorologi, Klimatologi, kemudian Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan suhu rata-rata pada tempat Indonesia melonjak drastis. Untuk tahun ini saja, suhu rata-rata Indonesia naik 0,4 derajat Celsius.

Menurut BMKG, seharusnya rata-rata suhu dalam Indonesia berkisar 26,6 derajat Celsius. Nyatanya, rata-rata suhu sudah mencapai 27 derajat Celsius, bahkan suhu maksimum pada Indonesia sudah mencapai 38 derajat Celsius.

Meningkatnya suhu panas ini juga berimbas pada kenaikan kasus kebakaran hutan kemudian lahan dalam Indonesia. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada 499 kejadian karhutla sepanjang Januari sampai Agustus 2023.

Angka itu tambahan besar tinggi jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Menurut BNPB sejak 2020 hingga 2022, jumlah agregat total kejadian karhutla selalu pada bawah 300, tapi saat ini total agregat kejadian karhutla sudah tembus tambahan banyak dari 300.

Manis di tempat tempat bibir, memutar kata

Joko Widodo sudah menjabat sebagai presiden Indonesia selama dua periode, yakni pada 2014-2019 lalu 2019-2023. 20 Oktober ini menandakan sembilan tahun kepemimpinan Jokowi dalam Indonesia.

Lalu, apa cuma yang dimaksud mana dijalankan pemerintahan Jokowi untuk menanggulangi krisis iklim yang dimaksud terjadi?

Pada 2015, Indonesia jadi salah satu negara yang tersebut hal itu menandatangani Perjanjian Paris (Paris Agreement). Di bawah perjanjian itu, negara-negara menyerahkan janji merek itu untuk mengurangi emisi, yang dikenal sebagai Nationally Determined Contribution (NDC).

Pemerintah RI pun menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 29 persen dengan upaya sendiri lalu 41 persen dengan dukungan internasional hingga 2030.

Namun demikian, komitmen yang disebut dikritik. Climate and Energy Researcher Greenpeace Indonesia Aldila Isfandari menilai komitmen itu cukup longgar melihat dari revisi yang mana diambil dari NDC yang tersebut digunakan sudah terjadi di-submit sebelumnya.

Tak hanya saja cuma itu, Aldila menilai dari sektor energi lalu BAU (Business As Usual) menuju 2030 masih longgar yang dimaksud digunakan menciptakan komitmen untuk memenuhi target penurunan emisi gagal tercapai.

“Bicara perihal gagal, sebenarnya kalau kita lihat NDC Indonesia yang mana dimaksud sudah di tempat area submit bahwa kita bilang mau kurangi emisi kaca 29 persen di area dalam 2030 masih sangat tidaklah ambisius. Jadi sebenarnya komitmen ini dinilai longgar. Indonesia sudah gagal memenuhi itu,” kata Adila saat itu.

Dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) COP 26 yang tersebut digelar di area tempat Glasgow, Skotlandia, 2021 silam, Jokowi menyampaikan pidatonya mengenai krisis iklim. Dalam pidatonya, Jokowi mengatakan bahwa perubahan iklim adalah “ancaman besar bagi kemakmuran lalu penyelenggaraan global”.

Infografis Klaim-klaim Jokowi pada Pidato Perubahan IklimKlaim-klaim Jokowi dalam Pidato Perubahan Iklim (Foto: CNNIndonesia/Basith Subastian)

Basa-basi Tekan Emisi

BACA HALAMAN BERIKUTNYA


HALAMAN:
1 2 3

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *