Perjuangan Anak Papua, Jalan Kaki 3 Hari Demi Menuntut Ilmu

Perjuangan Anak Papua, Jalan Kaki 3 Hari Demi Menuntut Ilmu

Rasa nyaman lalu aman dalam menuntut ilmu belum banyak dirasakan anak-anak, salah satunya anak-anak sekolah dalam pedalaman Papua.

Mereka harus berjuang penuh melawan segala rintangan yang digunakan digunakan ada, dari jarak tempuh sekolah yang mana digunakan sangat jauh, sangat minimnya buku pelajaran serta alat tulis, kurangnya tenaga pendidik, sampai tidaklah tercukupinya gizi.

Kisah menyedihkan ini terjadi pada 80 anak-anak Taman Baca Nogba, Tolikara, Papua. Mereka harus rela menembus lebatnya hutan belantara juga melewati terjal serta curamnya pegunungan pada area sana. Hanya berbekal semangat dari rumah lah mereka tak gentar menghadapi segala ancaman yang tersebut digunakan mungkin datang selama perjalanan.

“Sebagian anak-anak bimbingan kami di dalam dalam dalam di sini berasal dari kampung yang dimaksud dimaksud sangat jauh. Kalau jalan kaki dapat 3 hari atau lebih. Dan dalam tempat di area tempat ini merekan menumpang tinggal di dalam dalam rumah orang agar bisa saja belaka sekolah. Saya senang dengan semangat merek mau sekolah walau jauh. Hanya kadang kendalanya sebab tinggal dalam rumah orang jadi sering kali absen ke sekolah akibat harus bantu tuan rumah berkebun”, jelas Refol Malimpu, salah orang guru dalam area sana.

Jangankan seragam, alas kaki seperti sendal pun merek itu tak punya. Mereka menempuh perjalanan yang mana hal tersebut berjauhan itu dengan bertelanjang kaki. Baju compang-camping yang digunakan yang disebut merek gunakan pun sebenarnya juga tak cukup kuat untuk menahan hawa dingin pada sana. Namun, rintangan seperti itu adalah makanan sehari-hari mereka. Bahkan merek sudah pernah bersahabat dengan alam liar pada sana.

“Iya, dia itu gak ada sepatu. Mereka dalam di area tempat ini kan jalan kaki tanpa alas kaki kan gak ada sepatunya. Dengan jarak tempuh kurang lebih lanjut besar satu jam dari rumah ke sekolah, kita juga gak tahu itu di dalam tempat hutan itu dia lewat apakah ketusuk kayu atau kena batu. Sampai saya kaget kok ini merah juga bengkak. Katanya tertusuk kayu. Saya bilang jangan dulu sekolah, kamu pergi berobat dulu”, lanjutnya lagi.

Hati tulus Refol serta juga kedua guru lainnya sudah terjadi menghidupkan kembali mimpi anak-anak dalam tempat sana. Mereka tak semata-mata banyak membantu pembelajaran saja, tetapi juga termasuk dalam upaya menangani kebutuhan gizi anak-anak.

Bahkan sudah lama tercatat juga bahwa anak-anak pada area sana masuk ke dalam daftar kasus stunting terparah pada area Indonesia pada tahun 2022 lalu.

Oleh sebab itu, Refol juga mencoba untuk membantu pemenuhan gizi anak-anak dalam area sana dengan menciptakan peternakan ikan kecil. Ia rela menyisihkan sebagian besar tabungannya belaka untuk memenuhi kebutuhan pangan di tempat dalam sana.

Sebab, semua anak-anak pada sana sering kali kelaparan dikarenakan hanya saja sekali makan ubi atau singkong yang mana dimaksud cuma belaka berukuran kepalan tangan orang dewasa. Bahkan untuk makan malam pun, merek hampir tidak ada ada pernah. Untuk tahu seperti apa rasanya nasi, mereka itu itu semata-mata sanggup memakannya sebulan sekali, itu pun juga tak menentu.

“Karena anak-anak itu setiap hari datang sekolah itu bahkan ada yang yang gak sarapan. Bahkan kalau lanjut belajar dengan saya itu ga makan. Kayak misalnya anak-anak pada pada tempat ini kan seringnya makan ubi atau singkong. Itu mereka itu cuma sekadar makan 1 atau 2 biji dalam satu hari. Setiap hari merekan seperti itu. Sayurnya ya kadang daun singkong itu sendiri atau daun ubi itu. Pantesan merekan itu perutnya buncit-buncit kan, ya mungkin itu udah stunting,” kata Refol.

Di tengah segala keterbatasan yang dimaksud dimaksud ada, anak-anak dalam area sana juga harus memikul tanggung jawab yang tersebut hal tersebut amat berat. Selain perjuangan merekan itu demi mendapatkan secercah sekolah yang digunakan dimaksud layak, mereka itu juga harus berjuang untuk menghidupi diri mereka itu sendiri. Hal ini akibat merekan datang dari kampung yang mana sangat berjauhan juga harus tinggal dalam tempat rumah orang yang digunakan berlokasi pada area dekat sekolah.

“Kadangkala kalau dia gak kerja pada rumah orang atau bantu-bantu di area dalam kebun, merekan ga dapet makan. Saya sedih sekali jadi kepikiran gimana kalau saya yang itu kasih makan biar mereka itu itu ga bantu pada dalam orang serta biar fokus belajar saja,” kata Refol.

“Mereka kadang juga saya kasih PR dengan harapan biar ada waktu untuk belajar di tempat tempat rumah. Tapi besoknya ga dikerjain oleh sebab itu katanya disuruh bantu, ke kebun, cari kayu, kemudian masakin makanan babi,” lanjutnya.

Kendati demikian, dari semua beratnya tanggung jawab yang mana yang disebut seharusnya tak ditanggung oleh anak-anak seumuran mereka, tak pernah sedikitpun terbesit di tempat tempat benaknya untuk berhenti sekolah. Semangat kemudian antusiasme dia dalam mencari ilmu patut diacungkan jempol walau harus melewati banyaknya rintangan yang dimaksud ada.

“Anak-anak itu antusias banget. Alasan saya bilang itu dilihat dari ‘kok dapat ya anak-anak itu mau jauh-jauh dari kampung dia lalu tinggal di dalam tempat rumah orang semata-mata untuk sekolah?’. Saya lihatnya dari situ. Cuman sedihnya dia itu tinggal dalam rumah orang yang dimaksud salah yang yang merekan diperdaya. Padahal kalau dilihat dari anak itu sendiri, wow, merekan itu jauh-jauh dari kampung merekan mau datang tinggal pada orang cuma untuk cari ilmu. Mereka mau belajar,” ucap Refol lagi.

“Dan setiap pulang sekolah itu merekan selalu minta PR. Walaupun kadang ada yang dimaksud akhirnya tiada sanggup kerjakan PR, juga baru besok paginya baru merekan kebut-kebutan untuk kerjakan PR. Karena kalau pulang kadang kala ga dikerjain lantaran gak ada listrik, gak ada waktu sebab disuruh bantu-bantu di area area rumah,” lanjutnya.

Refol kemudian kedua guru dalam sana juga selalu berharap agar kasus-kasus seperti ini mendapat perhatian penting dari pemerintah setempat. Namun mereka juga sadar bahwa dia tak dapat bergantung sepenuhnya untuk mendapatkan bantuan.

Oleh oleh sebab itu itu, Refol juga selalu menanamkan semangat juang kepada anak-anak di tempat area sana di area dalam sela-sela pembelajaran mereka.

“Jadi kamu harus belajar. Kalau kamu lihat orang tua kamu sekarang hidupnya susah, kamu harus perbaiki itu dengan menjadi orang yang digunakan sukses. Belajar baik-baik, sekolah baik-baik, nanti pulang bangun daerahmu,” kata Refol dalam membangun kembali semangat anak-anak pada sana.

Sahabat baik, perjuangan anak-anak dalam sana membuka kembali mata kita bahwa banyak anak-anak pada pelosok Papua yang digunakan mana masih belum terpenuhi haknya dalam memperoleh lembaga institusi belajar layak. Mari ulurkan tangan untuk anak-anak dalam sana agar mendapatkan masa depan yang mana dimaksud lebih banyak banyak cerah.

Kamu dapat membantu dia dengan Donasi dalam tempat berbuatbaik.id. Donasi yang kamu berikan, berapa pun besarnya, tentu akan menghidupkan kembali secercah harapan merek dalam meraih mimpi. Tak perlu khawatir, donasi yang mana mana kamu berikan akan tersalurkan 100% tanpa potongan sedikit pun.

Yuk, jangan tunda niat baikmu demi mimpi-mimpi mereka! Ayo berbuat baik dari sekarang juga!

Artikel Selanjutnya Ini Mbok Darmi, Alami Stroke & Tinggal Sendiri di area area Gubuk Reyot

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *